Identitas Film
Director: Moustapha Akkad
Writer: A.B. Rahman El-Sharkawi, Abdel Hamid Gouda El Sahhar, H.A.L. Craig, Mohammad Ali Maher, Tewfik El-Hakim
Tanggal rilis: 30 Juli 1976
Durasi film: 2 jam 57 menit
Genre: Biografi, Drama, Sejarah, Petualangan
Production: Filmco International Productions Inc.,
Cast:
- Anthony Quinn as Hamza
- Irene Papas as Hind
- Michael Ansara as Abu Sofyan
- Johnny Sekka as Bilal
- Michael Forest as Khalid
- Garrick Hagon as Ammar
- Damien Thomas as Zaid
- André Morell as Abu-Talib
- Martin Benson as Abu-Jahal
- Robert Brown as Otba
- Rosalie Crutchley as Somaya
- Bruno Barnabe as Umaya
- Neville Jason as Jaafar
- John Bennet as Salool
- Donald Burton as Amr
- Earl Cameron as Annajashi
- George Camiller as Waleed
- Nicholas Amer as Suheil
- Ronald Chenery as Mosaab
- Michael Godfrey as Barra
- John Humphry as Ubada
- Ewen Solon as Yaseer
- Wolfe Morris as Abu-Lahab
- Ronald Leigh-Hunt as Heraclius
- Leonard Trolley as Silk Merchant
- Gerard Hely as Sinan
- Habib Ageli as Hudayfa
- Peter Madden as Toothless Man
- Mohammed Hassan Al Joundi as Kisra
- Elaine Ives-Cameron as Arwa
- Mohammad Al-Gaddary as Money Lender
- Ahmed Abdelhalim as Uriqat
- Mohamed Basri as Merchant
- Salem Gedara as Wahshi
- Richard Johnson as Narrator
- Mohamed Majd as Minor role
- Tarik Gürcan as Narrator
- Vic Tablian as Hamzu army soldier
- Abdellah Lamrani
- Hassan Essakali
Sinopsis
Film ini mengisahkan tentang perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Uniknya dari film ini adalah sosok Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah ditampilkan secara visual di layar, melainkan menggunakan perspektif dari para sahabat dan orang terdekat beliau. Latar film yaitu pada abad ke-7 Masehi, atau periode awal Islam dimana dimulai dari Nabi Muhammad SAW yang mendapat wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril untuk menyebarkan ajaran tauhid kepada penduduk Mekah yang kala itu masih menyembah berhala, perjuangan Nabi dan para sahabat untuk menyebarkan Islam di tengah penolakan dan penganiayaan dari kaum Quraisy, perjalanan Nabi dan sahabat untuk berhijrah ke Madinah yang menandai dimulainya penanggalan Hijriah, membentuk dan menyatukan komunitas Muslim seperti kaum Muhajirin dan Ansar sehingga menjadi kelompok komunitas yang kuat, serta membuat piagam Madinah yang membahas tentang hubungan antar berbagai suku dan agama. Selain itu dalam film ini juga membahas mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi antara kaum Muslim dan Quraisy, seperti Peristiwa Perang Badar dan Perang Uhud yang menjadi symbol dalam pengorbanan dalam membela agama Islam, dan puncaknya terjadi saat peristiwa Fathu Makkah atau Penaklukan Mekah dimana Nabi Muhammaad SAW dan pasukan kembali dan berhasil menaklukan Mekah dengan menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka’bah, sehingga Mekah kembali menjadi pusat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kelebihan
Film ini menunjukkan keakuratan sejarah dan respek yang tinggi terhadap agama Islam, memiliki narasi yang kuat dan menyentuh, bisa dijadikan sebagai alat edukasi yang luar biasa untuk memahami periode krusial dalam sejarah perkembangan Islam dan untuk menjembatani kesenjangan pemahaman antara dunia Barat dan Islam, serta menjelaskan prinsip-prinsip dasar Islam seperti tauhid, keadilan, kesabaran, dan persatuan. Selain itu sinematografi dan kualitas audio yang tinggi berhasil menciptakan atmosfer yang autentik dan imersif sehingga membuat penonton seperti ikut terbawa ke masa-masa awal Masehi di Jazirah Arab. Dalam film ini juga menjelaskan mengenai pesan universal tentang perjuangan melawan penindasan, pencarian kebenaran, pentingnya keadilan, dan kekuatan iman dalam menghadapi kesulitan, dimana nilai-nilai ini relevan bagi siapa pun, terlepas dari latar belakang agama dan suku mereka.
Kekurangan
Meskipun keputusan untuk tidak menampilkan Nabi Muhammad SAW dan istri-istri beliau adalah bentuk penghormatan yang sesuai dengan kaidah Islam, hal ini secara artistik membatasi kedalaman emosional dan terkadang terasa ada “jarak” dengan karakter sentral cerita. Akibatnya film ini harus banyak mengandalkan narasi dan dialog karakter lain untuk menjelaskan tindakan atau perkataan Nabi, yang dirasa kurang dinamis dibandingkan jika peristiwa itu ditampilkan secara visual penuh. Dikarenakan produksi film yang terjadi pada tahun 70-an membuat penonton era modern merasa ritme film mungkin terasa lambat di beberapa bagian. Selanjutnya meski bertujuan untuk edukasi, bagi beberapa penonton yang masih awam dengan sejarah Islam akan sedikit kesulitan memahami konteks penuh dari beberapa peristiwa sehingga akan rawan terjadi miskonsepsi.
Kesimpulan
The Message adalah film biografi-sejarah yang berhasil menyajikan gambaran akurat dan penuh penghormatan terhadap ajaran Islam, dengan narasi yang kuat serta sinematografi dan kualitas audio yang mampu menghadirkan suasana autentik masa awal Islam. Film ini tidak hanya mengedukasi tentang sejarah penting, tetapi juga menyampaikan nilai-nilai universal seperti keadilan, kesabaran, persatuan, dan kekuatan iman yang relevan bagi semua kalangan. Selain itu, film ini berperan penting dalam menjembatani kesenjangan pemahaman antara dunia Barat dan perspektif dalam Islam. Namun, dengan tidak ditampilkannya Nabi Muhammad SAW secara langsung membuat kedalaman emosional terbatas, dan ritme film yang khas era 70-an bisa terasa lambat bagi penonton modern. Meski begitu, secara keseluruhan, The Message adalah sebuah karya dirancang untuk menggabungkan nilai edukasi dan seni film yang tinggi, dan merupakan salah satu karya monumental yang patut diapresiasi.

JL.ANILA 3, BLOK 9F, NOMER 12, SAWOJAJAR 2, KECAMATAN PAKIS, KOTA MALANG, PROPINSI JAWA TIMUR.