Genap sepuluh tahun separuh napasku redup
Melangkah maju menghitung hari tanpa sepenuhnya hidup
Bahkan jika hujan menjadi air mataku kala Kamu pergi, setiap manusia hidup akan berjalan basah kuyup
Entah Tuhan sadar atau tidak setelah Kamu pergi sebagian besar nyawaku juga telah diraup
Pertanyaan pada Tuhan atas keputusannya mengambil kembali Kamu dariku sudah cukup membuat nyaliku kuncup
Daratan berubah menjadi perarian, aku tenggelam
Seluruh usaha agar tetap hidup diusahakan, sampai akhirnya kuhentikan
Kepala yang melongok ke atas, melihat derak kaki yang tetap melangkah dengan kehidupan yang tetap dilanjutkan
Ternyata, dunia tidak berduka denganku bersamaan
Tidak ada yang sadar badai yang terjadi setelah aku kehilangan berlian.
Jadi, tidak seorang pun paham aku menderita seperti demikian?
Lembaran baru mulai dibuka, ditulis dengan tinta pena yang terengah-engah menorehkan warna
Orang-perorang perlahan masuk dalam kehidupan, berusaha memberikan senyuman dan membuat tangisan sirna
Aku tertawa dengan badai yang masih mengaum membabi buta dalam dada, kegilaannya membuatku sendiri terpana
Semakin setengah sadar kujalani kehidupan, sampai Tuhan sendiri yang akhirnya menyelamatkan setelah banyak purnama
Kehidupan dunia makin porak-poranda yang Tuhan perlihatkan membuatku bersyukur Kamu tidak hidup di dalamnya dengan banyak bencana
Mungkin, Kamu, akan hancur jika tetap hidup denganku.
Berlianku yang sudah usang dimakan usia, akan semakin ringkih untuk bersamaku.
Meski Kamu selalu tersenyum dengan tanganmu yang kasar mencari bongkahan berlian untukku
Aku tahu Kamu pun tetap rapuh perlahan, sampai akhirnya kamu tidak kuat lagi dan harus pergi dariku.
Berlianku, Ayah. Kini kurelakan terbang tinggi di langit biru menjadi berlian seutuhnya tanpa hancur maupun terkikis dimakan waktu.
