Oleh: Lathifah Ayu Palupi
Di atas udara yang disekap pendar kaca,
kita melarut, menjelma angka tanpa muara.
Samudera diringkas, waktu fana dikunyah sia-sia,
demi memulung sekeping “ada” di panggung pura-pura.
Jemari menari, memahat aksara bagai nabi tanpa wahyu,
menabur benih sunyi ke beranda asing yang ikut layu.
Kita bertukar rupa, mengemis validasi penjelas rindu,
di altar virtual yang menuntut abadi sebelum mati membatu.
Menyelamlah ke palung sepi di balik dinding piksel yang kaku,
di mana labirin algoritma merajut takdir dingin dan beku.
Ada jiwa-jiwa gersang yang merindukan tatap mata yang syahdu,
lelah bersandiwara dalam topeng duka dan tawa yang semu.
Maka jadikan jejaring ini sekadar sauh penambat yang meramu,
ruang teduh penyembuh luka, bukan jangkar penghakiman bisu.
Sebab hakikat manusia bukanlah riuh beranda yang lekas lalu,
melainkan ketulusan mengetuk sanubari, meski lewat udara yang luluh.
