SERIBU WAJAH DI LAYAR KACA

Oleh: Muhamad Iqbal Maulana

Namanya Sapri, dua puluh tahun, dan ia belum pernah sekalipun memposting foto makan siangnya. Di zaman sekarang, semangkuk mie ayam bisa mendapat dua ratus likes hanya karena angle kameranya tepat, Sapri adalah anomali. Ia punya akun Instagram, tentu saja siapa yang tidak? tapi isinya hanya enam foto: tiga pemandangan gunung yang ia ambil dua tahun lalu, dua foto kucing tetangga yang kebetulan lewat, dan satu selfie blur yang entah kenapa tidak pernah ia hapus.

Teman-temannya menyebutnya ghost account. Sapri menyebutnya “cukup.”

Malam itu, tepat tanggal 30 Juni Hari Media Sosial Sedunia ia duduk di sudut kedai kopi langganannya, laptop terbuka, kopi hitam di sebelah kanan, dan sebuah tugas yang sudah seminggu ia tunda di layar depannya: menulis artikel tentang dampak media sosial bagi sebuah majalah digital tempatnya magang. Jam di pojok layar menunjukkan pukul 20.47.

“Lo kenapa nggak pernah aktif?” tanya Gadis tiba-tiba, muncul dari balik pintu kedai sambil menggoyang-goyangkan segelas boba di tangan kanan nya. Gadis, sahabatnya sejak SMP. gadis adalah kebalikan sempurna dari Sapri, tiga ratus pengikut baru setiap bulan, konten estetik yang konsisten, dan jadwal posting yang lebih teratur dari jadwal makannya sendiri.

Sapri mengangkat bahu. “Nggak ada yang menarik dari hidup gue buat diceritain.”

“Bohong.” Gadis duduk di kursi seberang tanpa diundang. “Lo sering banget bilang itu, tapi lo nulis, Ri. Lo nulis hal-hal yang bikin orang mikir. Itu jauh lebih menarik dari foto mie ayam gue.”

“Foto mie ayam lo dapat empat ratus likes kemarin.”

“Iya.” Gadis menyeruput bobanya dengan ekspresi datar. “Dan lo tahu apa yang gue rasain pas nge-post itu? Nggak ada. Kosong. Gue nunggu notifikasi kayak nunggu obat.”

Sapri menatap Gadis. Ada sesuatu di wajah temannya itu yang tidak biasa semacam kelelahan yang disembunyikan di balik lipstik merah muda dan eyeshadow cokelat.

“Lo baik-baik aja?”

Gadis tertawa kecil. “Gue performatif baik-baik aja. Beda.”

Kata itu menempel di kepala Sapri seperti permen karet di sol sepatu.

Performatif.

Ia membuka tab baru di laptopnya, mengetik dua kata di kolom pencarian: media sosial loneliness. Hasilnya membanjir ratusan jurnal, artikel, penelitian. Ia mulai membaca, dan tanpa sadar, artikel yang tadinya terasa seperti beban perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih personal.

“Gadis,” katanya pelan, “lo pernah nggak nge-post sesuatu yang beneran ngewakilin lo? Bukan yang bagus, bukan yang estetik tapi yang jujur?”

Gadis terdiam lama. Cukup lama sampai es di bobanya mulai mencair.

“Pernah,” akhirnya ia menjawab. “Sekali. Gue posting foto gue lagi nangis habis putus sama Dito dua tahun lalu. Caption-nya cuma: hari ini berat. Gue hapus dua jam kemudian karena takut dikira lebay.”

“Berapa likes yang lo dapat sebelum dihapus?”

Gadis mengangkat alisnya, seperti baru menyadari sesuatu. “Enam ratus dua puluh. Lebih banyak dari foto mie ayam manapun.”

Sapri tidak jadi menulis artikel yang ia rencanakan.Yang ia tulis adalah sesuatu yang berbeda bukan rangkuman jurnal ilmiah, bukan daftar fakta tentang berapa jam rata-rata orang menghabiskan waktu di media sosial. Ia menulis tentang Gadis dan foto nangisnya yang enam ratus dua puluh likes. Tentang bagaimana manusia selalu lapar akan kejujuran, tapi justru paling sering menyajikan pertunjukan.

Ia menulis tentang dirinya sendiri tentang ghost account dan enam foto yang tidak pernah ia tambah, dan bagaimana diam-diam ia selalu menggulir linimasa orang lain sambil bertanya-tanya apakah hidupnya cukup menarik untuk dibagikan.

Ia menulis:

“Media sosial bukan cermin. Ia adalah lukisan kita yang memilih warna, sudut, dan apa yang kita sembunyikan dari kanvas. Masalahnya, setelah bertahun-tahun melihat lukisan orang lain, kita lupa seperti apa wajah kita yang sesungguhnya.”

Gadis membaca di atas bahunya, diam, lalu mengetuk meja pelan. “Post itu.”

“Ini buat majalah.”

“Bukan. Post itu di akun lo sendiri dulu. Malam ini. Sebelum lo submit.”

Sapri memandang layarnya. Kursor berkedip-kedip di akhir kalimat terakhir, seperti menunggu keputusan.

Jam 23.51.

Sembilan menit sebelum tenggat. Ia menyalin paragraf terakhir itu, membuka Instagram, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia mengetik sesuatu di kolom caption bukan keterangan foto pemandangan, bukan nama kucing tetangga tapi kata-katanya sendiri, mentah dan tanpa filter.

Lalu ia menekan: Bagikan.

Artikel itu tayang keesokan harinya di majalah digital tempatnya magang, dengan judul yang diberikan editor: “Generasi Pertunjukan: Ketika Media Sosial Jadi Panggung, Bukan Jendela.”

Dalam empat puluh delapan jam, artikel itu dibagikan sebelas ribu kali. Tapi yang lebih mengejutkan Sapri bukan angka itu. Yang mengejutkannya adalah DM yang masuk ke akun Instagramnya akun dengan enam foto dan kini satu caption panjang yang tidak ada gambarnya sama sekali. Pesan dari orang-orang yang tidak ia kenal: seorang ibu di Surabaya yang bilang ia menangis membacanya, seorang mahasiswa di Bandung yang bilang ia akhirnya berani menghapus akun palsu keduanya, seorang pria paruh baya di Jakarta yang hanya menulis, “Terima kasih sudah jujur.”

Gadis memposting ulang tulisan Sapri tanpa komentar apapun. Hanya tulisan, tanpa foto, tanpa estetik. Dapat seribu likes dalam sejam. Dan untuk pertama kalinya dalam lama sekali, Gadis tidak menunggu notifikasi itu seperti menunggu obat. Karena kali ini, ia sudah tahu jawabannya sebelum angkanya muncul: bahwa kejujuran, meski sebentar dan meski takut, selalu lebih berat dari apapun yang bisa ditimbang dengan jumlah pengikut.

Sapri menutup laptopnya malam itu dengan satu pikiran yang terus berputar:

Mungkin media sosial bukan masalahnya. Mungkin yang jadi masalah adalah cara kita memutuskan siapa yang boleh melihat kita dan versi diri yang mana. Dan mungkin, sesekali, yang paling berani bukan mereka yang paling banyak posting.

Tapi mereka yang berani posting hal yang benar.

Selamat Hari Media Sosial Sedunia, 30 Juni. Semoga hari ini kita semua berani sedikit lebih jujur di layar kita masing-masing.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *