“Sial! kali ini, bagian tubuh mana lagi yang akan dipukul ayah?” Nasya menenggelamkan wajah dibalik tumpukan lengan di atas meja, tangannya meremas selembar kertas yang baru dibagikan gurunya.
Ia merapikan buku dan alat tulisnya dalam tas, bersiap untuk menunggu bus sekolah yang akan mengantarnya pulang. Langkahnya gontai keluar kelas, di saat semua siswa berlarian menuju gerbang dan berdesak-desakan dalam bus. Nasya menghela nafas kasar, tepat saat dia keluar dari gerbang, bus itu sudah mulai menancapkan gas, meninggalkan gadis malang itu seorang diri.
“Heeiiii! Akuuu belum naik!!” teriaknya, ia meloncat-loncat seraya melambaikan kedua tangannya. Tapi sayang, tentu saja tidak akan ada yang mendengar suaranya.
Nasya menyusuri jalan arah rumahnya, ia ingat jika ada sebuah halte bus yang tak jauh dari tempat dia berada. Barangkali, dia masih mendapatkan keberuntungan untuk bisa pulang menaiki bus. Selama dia bersekolah, orang tuanya sama sekali tidak pernah mengantar ataupun menjemputnya, bahkan untuk sekedar mengambil rapot dan mengikuti acara perpisahan sekolahpun, dia harus meminta tolong pada pamannya.
Lelah berjalan selama sepuluh menit, ia sumringah melihat bangku besi yang warnanya mulai memudar. ‘Halte Adem Ayem’ lekas dia berlari ke tempat tersebut. Tangannya merogoh ransel, mencari botol minum untuk menghilangkan dahaganya. Nyatanya, botol minumnya pun menghianati tuannya, sesetespun air sudah tak tersisa. Nasya meneguk kasar salivanya.
“Kok sendirian Dek?” Seseorang mencoba mengajaknya bicara. Meski malas, Nasya tetap berusaha menghargai orang yang mengajaknya berbicara. Lekas dia meraih note kecil yang dikalungkan dilehernya, dengan lincah jarinya menuliskan beberapa kata.
‘Ketinggalan bus sekolah.’ Tulisnya, seraya menunjukkan pada orang tersebut.
Dia hanya mendapati orang itu mengangguk, tersenyum simpul, dan tak lagi membuka suara. Nasya mendengus pelan, kembali memeluk ranselnya.
Wanita disebelahnya kembali menyodorkan sesuatu padanya. Nasya hanya meliriknya sekilas, lalu pikirannya teralihkan pada suara klakson bus yang terdengar. Lekas dia beranjak dari duduknya, saat berdiri, dia mendapati sebungkus wafer nabati di sampingnya. Ia mengambilnya, terdapat note kecil yang menarik perhatiannya, tanpa sadar, lengkung kurva terbentuk di kedua sudut bibirnya, wajahnya tampak sangat ayu. Nasya mengangkat telapak tangannya menghadap ke atas, lalu dia arahkan pada sosok yang kini berdiri disampingnya kini menunggunya disebelah pintu bus dengan senyum yang mengembang.
Dia kembali melihat note kecil yang di tempelkan pada kemasan wafer nabati, lalu tersenyum, dan lekas beranjak menaiki bus. ‘You’are amazing’.
