Di Suatu malam ketika takbir berkumandang untuk menyambut Iduladha, sekelompok anak-anak berkumpul di depan masjid diantaranya ada Majelina, Ria, bersama teman-temannya sedang duduk bersama Pak RT dan Pak Ustadz. Sambil mendengarkan takbir berkumandang mereka saling bercengkrama dan bergembira.
“Pak RT kenapa setiap tahun yang disembelih kambing dan sapi pak?” tanya Majelina.
“Karena kalau yang disembelih kamu rasanya ga enak tau,” ledek Ria.
“Ih, ga ada kali yang mau sembelih anak secantik aku,” sahut Majelina
(Pak RT dan Pak Ustadz tersenyum melihat percakapan mereka).
“Sudah-sudah sini biar Bapak jelaskan,” jawab Pak Ustadz
(anak-anak bersama Pak RT duduk merapat untuk mendengarkan cerita Pak Ustadz).
“Jadi gini anak-anak, pada zaman Nabi Ibrahim beliau menerima perintah dari Allah Swt. untuk menyembelih putranya Nabi Ismail sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melakukan apa yang Allah perintahkan bersama-sama, mereka berangkat menuju tempat penyembelihan. Namun, ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Nabi Ismail, Allah mengirimkan Malaikat Jibril untuk menggantikan Nabi Ismail dengan seekor domba. Ini adalah ujian yang besar bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang menunjukkan kepercayaan dan ketaatan mereka kepada Allah kemudian Allah memberikan penghormatan kepada Nabi Ibrahim atas ketaatannya dengan memberikan domba sebagai pengganti Nabi Ismail untuk disembelih dengan demikian, penyembelihan kambing dan sapi dalam perayaan Iduladha bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan sejarah yang dipercayai oleh umat Muslim sebagai sunnah Nabi Ibrahim,” cerita Pak Ustadz.
“Selain dari yang diceritakan oleh pak Ustadz tadi kambing dan sapi dinilai memiliki daging yang banyak dan cukup untuk dibagikan kepada warga sekitar,” tambah pak RT.
“Anak-anak, ingatlah ini ketika kalian dewasa. Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya Ismail. Ismailmu mungkin hartamu, Ismailmu mungkin jabatanmu, Ismailmu mungkin gelarmu, Ismailmu mungkin egomu. Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini. Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail. Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa ‘kepemilikan’ terhadap Ismail karena hakikatnya semua adalah milik Allah. Iduladha adalah tentang percaya dan ikhlas, dua hal yang sungguh berat. Banyak hal-hal yang dulu biasa, sekarang terasa mewah. Banyak yang kita rasa sudah jadi bagian hidup kita, namun ternyata harus kita lepas,” nasihat Pak Ustadz.
“Wah, kisah ini sungguh menakjubkan terima kasih pak kami akan selalu mengingat nasehatmu,” jawab Majelina.
“Kalau begitu mari kita sambut Idul Adha dengan semangat, rasa syukur yang luas, dan kegembiraan yang meriah,“ jawab Pak RT.
“Harus banget Pak RT, mari kita meriahkan bersama-sama,” jawab salah satu teman Majelina dan Ria.
“Aku punya ide, bagaimana kalau kita menyalakan mercon biar meriah?” ajakan Majelina.
“Tidak, kamu lupa tahun baru kemarin kamu nangis karena merconnya meledak di tanganmu,” sahut Ria mengingatkan Majelina.
“Hehehe,” tawa majelina menahan malu dan disambut gelak tawa teman-temannya.
“Kalau begitu mari kita meriahkan Iduladha dengan membantu warga membagikan daging kurban besok,” lanjut Majelina.
“SETUJU!” jawab anak-anak, Pak RT, dan Pak Ustadz bersama-sama.
Pada akhirnya mereka sepakat untuk turut memeriahkan Iduladha dengan membantu membagikan daging kurban kepada warga. Dengan keharuan kisah Nabi Ibrahim malam itu mereka menemukan kebahagiaan dan kelucuan yang mewarnai malam Iduladha mereka.
